Matahari paling terang telah datang,
dari sudut wajah keemasanmu yang mengaku sudah bilang suka mengabdi pada tuhan dan pada ibu-ibu kehidupan.
di matamu yang dalam itu suara matahari paling terang telah datang, gemerisiknya seperti pasir musim kemarau :
tertiup panas dan meresap di kulit,
wajahmu yang keemasan menjadi pembelaan diri atas kehidupan.
aku ambil keputusan saat genting,
memecah jalan pikiran yang berprinsip, dan menyimpulkan mati.
adakah kau diam saat genting ?
memecah pendapat dari seribu geguritan karya mahasiswa-mahasiswa yang sebentar lagi jadi sarjana,
tepat ketika matahari paling terang terbit di musim kemarau.
tuhan menghiburku dengan kebodohan.
sleman,
26 april 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar